100 Blog Indonesia Terbaik
Tampilkan postingan dengan label cerita kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita kehidupan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 25, 2009

Mimpi Berujung Hidayah

.
7 komentar

Pagi ini tidak seperti pagi sebelumnya, bukan karena suhunya yang dingin tapi lebih karena aku bisa bangun lebih pagi, hehehehehe maklum aku kuliah malam jadi kalo siang waktumya untuk tidur. Langsung aja rutinitas harian aku jalanin (chatting), pas aku buka YM eh ada email masuk pas aku liat isinya cerita dari sahabat di New York. Karena aku pikir ceritanya bisa untuk motifasi para ulama dan kita orang muslim, jd aku posting aja. Kaya gini nih ceritanya......

Sekitar sebulan lalu, pada kelas Islamic Forum for non Muslims, hadir seorang pria berkulit hitam dengan rambut panjang yang diikat. Terlihat cukup menyeramkan, tapi sejak awal hadir di kelas itu dia nampak sopan dan sesekali tersenyum. Rambut panjang yang terikat, lengannya yang bertatto serta jari jemarinya yang dipenuhi cincin berwarna perak, cukup menarik perhatian.

Hari itu pembahasan berkisar Kalender Islam, Tahun Baru dan Hijrah. Pria itu nampak sekali pendiam, bahkan ketika yang lain ramai bertanya, dia hanya nampak memperhatikan dengan seksama dan sesekali mengangguk pertanda setuju.

Di Islamic Forum biasanya memang saya tidak mulai dengan bertanya kepada semua yang baru hadir. Khawatir jika ada di antara mereka yang memang hadir untuk sekedar dengar-dengan dan tidak ingin diekspos. Tapi jika mereka pada akhirnya mereka tinggal dan memperlihatkan keseriusan, di situlah biasanya saya melakukan dialog secara serius.

"Hi my friend, is this your time to this class?", tanyaku padanya.

Dengan tersenyum pria itu nampak terkejut, mungkin tidak menyangka saya akan langsung bertanya kepadanya. Apalagi, dalam benak sebagian non Muslim, seorang Imam itu adalah sosok yang sacral dan terhormat, mungkin mirip-mirip pendeta atau bahkan mungkin lebih.


"Hi sir!.. Yes, this is my first day to a mosque", jawabnya santai sambil merubah posisi duduknya.

"And what is your name my Brother!", tanya saya mencoba menyelami.

"Danes!", jawabnya singkat.

"Sorry to ask, but how did you know about this forum?", tanyaku lagi.

"I got it from an internet search, sir!", jawabnya.

Saya terkejut sebab rasanya belum pernah saya membuat pengumuman di internet atau advertisement lewat online. Ternyata, dia mencoba menelusuri mesjid-mesjid di kota New York dan pada akhirnya ketemu dengan Islamic Cultural Center of New York, dan di salah satu bagian dari ICC-NY itu ada program ini.

"Danes, what really made you interested to learn Islam?", pancingku.

Nampak pria itu sedikit serius, tapi kemudian melihat teman-teman lain sambil tersenyum. "I think…I hope this is not a non sense to you all", katanya sambil melihat peserta Islamic Forum yang lain.

Saya kemudian menyelah, "nothing is non sense in this class. Nothing is considered stupid question in this class", jelasku.

Sambil menarik napas dia menjelaskan bahwa sejak beberapa bulan terakhir ini dia selalu gelisah. Gelisah karena beberapa malam sebelumnya, dan bukan hanya sekali atau dua, tapi menurutnya beberapa kali bermimpi ketemu dengan adiknya. Adik yang bernama Derick itu yang menurutnya meninggal dua tahun lalu.

"And so what really made you decide to learn Islam?", tanyaku.

"My brother was a Moslem, and practicing Moslem", jelasnya.

Dia kemudian bercerita banyak mengenai adiknya, yang menurutnya sebelum masuk Islam santat brutal. Selalu berkelahi dan lebih tragis lagi, sering keluar masuk penjara karena berbagai kejahatan yang dilakukannya. Akhirnya, di penjaralah dia menemukan seorang Muslim dan akhirnya mendapat hidayah.

Sementara Danes sendiri adalah seorang Kristen. "I still remember, on Sunday I went to the Church, but my Brother was so dedicated and he always had his cap (kopiah putih) on every time", jelasnya. Walaupun dia mengakui bahwa dia ke gereja tidak lain karena itulah yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarganya setiap hari Minggu. "I felt it's more a family thing than religious", akunya.

Saya kemudian meminta maaf kepada peserta Islamic Forum yang lain karena saya akan kembali berbicara mengenai dasar-dasar Islam. "Sorry guys! I have to talk about things we had talked many times before", kataku.

Saya jelaskan ke Danes bahwa Islam adalah agama yang diturunkan oleh Tuhan kepada hamba-hambaNya melalui para rasul, termasuk yang terakhir Isa A.S. Bahwa pada intinya, semua nabi dan rasul membawa ajaran yang sama. Barangkali yang berbeda adalah syariah atau hukum-hukum praktis, yang sudah pasti berbeda dari masa ke masa, sesuai dengan keadaan masing-masing.

Sedikit panjang lebar saya menjelaskan mengenai dasar-dasar Islam dengan bertolak dari prinsip "Tauhid" (Unity). Saya katakana kepada Danes, semua usur bangunan Islam itu dibangun di atas dasar Tauhid (Oneness), yang pada intinya memiliki empat sisi:

1. Kesatuan (oneness) Tuhan (Tauhid Allah).
2. Kesatuan Ajaran (Islam)
3. Kesatuan Manusia (insaniyah/basyariy ah)
4. Kesatuan Hidup (Pengabdian kepada Allah)


Tanpa terasa konsep Tauhid dengan empat sisi ini saya jelaskan hampir sejam dan tanpa selingan kata dari semua peserta, termasuk Danes. Pada akhirnya saya bertanya kepada Danes, apakah ada hal-hal lain yang ingin ditanyakan?

Danes dengan sedikit tersenyum hanya menggelengkan kepala. Dan bersamaan pula sang mu'azzin mengumandangkan azan untuk shalat Asr. Semua peserta secara teratur meninggalkan ruangan, tapi Danes masih terlihat duduk dan mewmberikan isyarat dengan jarinya jika dia ingin berbicara secara pribadi.

Setelah semua peserta bubar untuk shalat Asr, termasuk non Muslims, biasanya ikutan shalat, Danes duduk bersama saya sambil menunggu Iqamah dalam masa 10 menit.

"Sir, I really had thought this for the last hew days, but did not know what to do", dia memulai.

"What did you mean?", tanyaku.

"I am thinking to convert to Moslem", jawabnya tegas.

"Really? Are sure that this is the religion, the truth that you are looking for?", pancingku.

"Yes sir!", jawabnya lebih tegas lagi

Segera saya memanggil security untuk menunjukkan Danes kamar mandi. Saya meminta agar dia diajari berwudhu, kemudian ajaklah dia ke ruang shalat.

Beberapa menit kemudian saya menuju ruang shalat. Tapi sebelum dilakukan iqamah, saya memberikan shalat kepada jama'ah dan mengumumkan bahwa alhamdulilah, Allah telah memberikan hidayah kepada salah seorang hambaNya, dan kita ingin jika hamba ini masuk islam sebelum shalat Asr dimulai agar dia bisa melakukan shalat pertamanya bersama kita.

Saya kemudian meminta Danes maju ke depan, dan dengan mata yang berkaca-kaca dia nampak khusyuk mengikuti: "Ash-hadu an laa ilaaha illa Allah- wa ash-hadu anna Muhammadan Rasul Allah".

Ratusan jama'ah yang hadir mengagumkan kebesaran Allah dengan pekikan "Allahu Akbar!".

Semoga Danes tumbuh dalam keimanan, tegar dalam keislaman dan menjadi pejuang di jalanNya! Amin!


New York, 23 Januari 2009

Pemilik Cerita M. Syamsi Ali

Selengkapnya.....

Jumat, Januari 09, 2009

Aku Mencintaimu Karena Engkau Adalah Jalanku Untuk Mencintai Allah

.
0 komentar

Hari itu di pemakaman, siang begitu terik dan menyengat. Para pelayat yang kebanyakan berbaju hitam memadati lokasi pemakaman. Di antara begitu banyak orang, wanita cantik itu berdiri mengenakan pakaian dan kerudung berwarna putih, ekspresi tenang terlihat di raut wajah yang tersaput kesedihan.

Pada saat penguburan berlangsung, sebelum jenazah dimasukkan ke liang lahat, wanita itu mendekati jenazah yang terbungkus kain kafan kemudian mencium bagian kening jenazah dan membisikkan kata-kata tak terdengar dengan perasaan dan suasana yang sulit kulukiskan. Aku melihat keharuan di antara para pelayat menyaksikan adegan itu.

Wanita itu adalah istri dari laki-laki yang pada hari itu dikubur. Setelah acara penguburan selesai satu persatu pelayat mengucapkan kalimat duka cita kepada wanita tersebut yang menyambut ucapan itu dengan senyuman manis dan kesedihan yang telah hilang dari wajahnya, seolah-olah pada saat yang seharusnya menyedihkan itu dia merasa bahagia.

Kudekati wanita itu.

"Kak, yang sabar ya, insya Allah abang diterima dengan baik di sisi-Nya," ujarku perlahan. Dia menatapku dengan senyuman tanpa kata-kata. Rasa penasaran menyeruak dalam hatiku melihat ekspresinya. Tapi perasaan itu tidak kuungkapkan.

Beberapa hari setelah pemakaman itu, aku datang ke rumah wanita itu.
Kudapati ia sedang mengurus kembang mawar putih seperti apa yang sering
dilakukannya. Kusapa dia dengan wajar, "Assalaamu'alaikum, sedang sibuk
kak?" tanyaku

"Wa'alaikusallam. .. Oh adik, ayo duduk dulu," jawabnya seraya membereskan perlengkapan tanaman.

"Saya mengganggu kak?" tanyaku lagi,

"Kenapa harus mengganggu dik, ini kakak sedang menyiapkan bunga untuk dzikir nanti malam," jawabnya.

Sesaat setelah jawaban terakhir suasana hening terjadi di antara kami.
Dengan hati-hati kuajukan perasaan yang selama beberapa hari mengganjal di hatiku. "Kak, apakah kakak tidak merasa sedih dengan kepergian abang?" tanyaku.

Dia menatapku dan berkata, "Kenapa adik bertanya seperti itu?"

Aku tidak segera menjawab karena takut dia tersinggung, dan, "Karena kakak justru terlihat bahagia menurut adik, kakak tersenyum pada saat pemakaman dan bahkan tidak mencucurkan airmata pada saat kepergian abang," ujarku.

Dia menatapku lagi dan menghela nafas panjang. "Apakah kesedihan selalu
berwujud air mata?" Sebuah pertanyaan yang tidak sanggup kujawab. Kemudian dia meneruskan kembali perkataanya. "Kami telah bersama sekian lama, sebagai seorang wanita aku sangat kehilangan laki-laki yang kucintai, tapi aku juga seorang istri yang memiliki kewajiban terhadap seorang suami. Dan keegoisanku sebagai seorang wanita harus hilang ketika berhadapan dengan tugasku sebagai seorang istri," katanya tenang.

"Maksud kakak?" aku tambah penasaran.

"Sebuah kesedihan tidak harus berwujud air mata, kadang kesedihan juga
berwujud senyum dan tawa. Kakak sedih sebagai seorang wanita tapi bahagia sebagai seorang istri. Abang adalah seorang laki-laki yang baik, yang tidak hanya selalu memberikan pujian dan rayuan tapi juga teguran. Dia selalu mendidik kakak sepanjang hidupnya. Abang mengajarkan kakak banyak hal. Dulu abang selalu mengatakan sayang pada kakak setiap hari bahkan dalam keadaan kami tengah bertengkar. Kadang ketika kami tidak saling menyapa karena marah, abang menyelipkan kata sayang pada kakak di pakaian yang kakak gunakan. Ketika kakak bertanya kenapa? abang menjawab, karena abang tidak ingin kakak tidak mengetahui bahwa abang menyayangi kakak dalam kondisi apapun, abang ingin kakak tau bahwa ia menyayangi kakak. Jawaban itu masih kakak ingat sampai sekarang. Wanita mana yang tidak sedih kehilangan laki-laki yang begitu menyayanginya? Tapi ..."

Dia menghentikan kata-katanya.

"Tapi apa kak?" kejarku.

"Tapi sebagai seorang istri, kakak tidak boleh menangis," katanya tersenyum.

"Kenapa?" tanyaku tidak sabar. Perlahan kulihat matanya menerawang.

"Sebagai seorang istri, kakak tidak ingin abang pergi dengan melihat kakak sedih, sepanjang hidupnya dia bukan hanya laki-laki tapi juga seorang suami dan guru bagi kakak. Dia tidak melarang kakak bersedih, tapi dia selalu melarang kakak meratap, kata abang, Allah tidak suka melihat hamba yang cengeng, dunia ini hanya sementara dan untuk apa ditangisi."

Wanita itu melanjutkan, "pada satu malam setelah kami sholat malam
berjamaah, abang menangis, tangis yang tidak pernah kakak lupakan, abang berkata pada kakak bahwa jika suatu saat di antara kami meninggal lebih dahulu, masing-masing tidak boleh menangis, karena siapa pun yang pergi akan merasa tidak tenang dan sedih, sebagai seorang istri, kakak wajib menuruti kata-kata abang."

"Pemakaman bukanlah akhir dari kehidupan tapi adalah awal dari perjalanan, kematian adalah pintu gerbang dari keabadian. Saat di dunia ini kakak mencintai abang dan kita selalu ingin berada bersama dengan orang yang kita cintai, abang adalah orang baik. Dalam perjalanan waktu abang lah yang pertama kali dicintai Allah dan diminta untuk menemui-Nya, abang selalu mengatakan bahwa baginya Allah SWT adalah sang Kekasih dan abang selalu mengajarkan kakak untuk mencintai-Nya. Saat seorang Kekasih memanggil apakah kita harus bersedih? Abang bahagia dengan kepergiannya. Dalam syahadatnya abang tersenyum dan sungguh egois jika kakak sedih melihat abang bahagia," sambungnya.

Tanpa memberikan kesempatan untuk aku berkata, serangkaian kata terus
mengalir dari wanita itu,

"Kakak bahagia melihat abang bahagia dan kakak ingin pada saat terakhir
kakak melihat abang, kakak ingin abang tau bahwa baik abang di dunia maupun di akhirat kakak mencintainya dan berterima kasih pada abang karena abang telah meninggalkan sebuah harta yang sangat berharga untuk kakak yaitu cinta pada Allah SWT. Dulu abang pernah mengatakan pada kakak jika kita tidak bisa bersama di dunia ini kakak tidak perlu bersedih karena sebagai suami istri, kakak dan abang akan bertemu dan bersama di akhirat nanti bahkan di surga selama kami masih berada dalam jalan Allah. Dan abang telah memulai perjalanannya dengan baik, doakanlah kakak ya dik semoga kakak bisa memulai perjalanan itu dengan baik pula. Kakak sayang abang dan kakak ingin bertemu abang lagi."

Kali ini kulihat kakak tersenyum dan dalam keheningan taman aku tak mampu berkata-kata lagi.

Selengkapnya.....

Cinta 23,99999999999 Karat

.
0 komentar

Aku sangat menikmati saat-saat kesendirianku seperti sekarang ini... waktu dimana segalanya adalah milikku seorang... tidak perlu terlalu pusing dengan birokrasi bertele-tele untuk sekedar menghirup udara segar di luar dan bercengkrama dengan matahari sesukaku...berlari sejenak dari belenggu aktifitas yang mengurung langkah kecilku... totally free!!

Dalam balutan jeans setengah belel dan t-shirt putih kebangsaan, sekarang aku sudah ikut bergelantungan dengan belasan penumpang lainnya di sebuah angkutan kota...phiuuuhhh...untung saja aku berdiri cukup dekat dengan pendingin ruangan, kalau tidak...aroma beraneka warna bisa mengusik ketenanganku siang ini...

Perlahan pintu bus terbuka ketika berhenti di depan halte tujuan...ringan kulangkahkan kaki dan tak lama kemudian sudah ikut berbaur dalam lautan manusia... ekspresi dan reaksi mereka adalah hal yang sangat menarik untukku... secara pribadi, aku memang menyukai seni 'How to Dealing with People'... berpikir dan mencerna dalam hati...untuk kemudian tersenyum sendiri...hehehe, untung saja selama ini tidak pernah ada yang menganggap aku gila karena kerapkali tersenyum dalam kesendirian....

Tumpukan botol softdrink di hadapanku tampak begitu menggiurkan di siang hari yang menyengat ini... perlahan aku menghampirinya dan segera berubah pikiran saat aku menemukan sekotak sari kacang hijau dingin juga ada disana... yaa, aku memang pecandu kacang hijau...

Mengambil posisi duduk dekat dengan kios minuman ini, aku kembali melakoni fantasiku, bercengkrama dengan orang-orang yang lalu lalang melalui imajinasiku...

Namun sepasang manusia ini begitu menarik untuk terus kupandangi... mereka tampak begitu mesra dan saling menyayangi...sesekali sang pria mengusap peluh di kening kekasihnya yang masih juga tersipu malu-malu... mereka terus bercengkrama seolah tidak ada seorangpun disekitar mereka...aku tersenyum sendiri memperhatikan tingkah polahnya...

Kalau mereka adalah sepasang pria dan gadis belia...mungkin apa yang mereka pertontonkan tidak akan menjadi terlalu istimewa bagiku... tapi mereka adalah pasangan yang kutaksir berumur sekitar kepala enam... gosshh!!

Hmm, jujur aku merasa iri dengan apa yang mereka miliki berdua... tapi mungkin ini bukan perasaan iri...tapi lebih kepada rasa ingin tahu...bagaimana caranya mereka bisa terus mempertahankan kemesraan setelah sekian lama bersama...

Aku melangkah pasti ke arah mereka untuk kemudian pura-pura menjatuhkan music playerku dekat dengan kaki sang nenek... Mereka berdua tersenyum ke arahku... spontan lelaki tua ini menunduk dan membantuku untuk memungutnya... aku segera berucap maaf ...

Tidak sulit untuk memulai suatu percakapan yang hangat dengan mereka... sampai akhirnya aku mengutarakan secara jujur rasa ingin tahu yang berkecamuk...

Sang kakek seraya terus menggenggam tangan kekasihnya berucap 'aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri untuk mencintainya seumur hidupku...kurasa itulah yang membuat kami mampu bertahan untuk terus bersama setelah melewati begitu banyak peristiwa'... tidak mau kalah... sang nenekpun berkata 'aku sudah mengikatkan diriku penuh kepadanya, menutup mata dan hatiku dari dunia lain selain dia'...

Wowww....

Setengah terbelalak aku mengagumi ekspresi yang telah mereka ikrarkan entah untuk yang kesekian kalinya tanpa malu... sang nenek menyentuh bahuku dan berkata 'Nak, kasih itu lebih dari sekedar perasaan, kasih itu adalah suatu keputusan...bukan kasih yang membuat suatu hubungan menjadi langgeng, melainkan komitmen kita terhadap janji yang diikrarkan... Karena itu pertimbangkanlah dengan baik sebelum membuat janji, jangan sampai kau ingkari suatu hari nanti dan akhirnya hanya merusak karya tanganmu sendiri'

Tanpa sadar aku menganggukkan kepala berulang kali...suatu petuah yang manis sekali pikirku...

Aku membalas ucapan sang nenek dengan senyuman dan berkata 'terima kasih untuk wejangannya nek, hmm... mungkin sebotol air mineral tidak akan cukup untuk membalasnya, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali, iya 'kan?'.... mereka tergelak dan menyetujui tawaranku...

Tanpa membuang waktu lagi aku segera beranjak, namun aku lupa bertanya... mereka menyukai minuman dingin atau tidak yaa? saat berpaling untuk memastikan hal tersebut... mereka telah lenyap dari hadapanku... yaa, pasangan istimewa itu telah menghilang... ini tidak mungkin, aneh sekali!! Mereka tidak mungkin berlalu secepat itu...

Aku menarik nafas dan berpikir... apakah mereka memang sengaja dikirim untuk menjawab prahara sesungguhnya dalam hatiku? yaa, terkadang TUHAN memang suka bercanda....

Selengkapnya.....

    Interaktif